Skip to content

Hujan Kemarau

19/04/2013
tags:

Hujan tak lagi bening kawan
dan hujan tak lagi turun dari langit
Deru debu debu bergumul dengannya
mencipta petang yang tak sesungguhnya

Mata air tak lagi sempat mengalir
dan riak tawanya tak lagi terdengar

Hujan tak lagi bening kawan
Jadi merah jadi darah
membasahi tembok
membanjiri jalanan

Hujan tak lagi turun dari langit kawan
Membuncah ruah dipelupuk bayi, berjeritan
Rintiknya menebar ketakutan
diantara badai mesiu.
Merembes deras dihati yang terluka

Mata air tak lagi sempat mengalir kawan
terbendung oleh rerimbunan mayat
Bergelatakan
ditengah jalan
di lorong lorong
di medan pertempuran
Tempat muslim dipaksa tuk berperang

Hujan tak lagi bening kawan
namun tegas menampar baja.

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 19/04/2013 12:28

    hujan badai pasir ya..
    dan itu duit 2000an buat nyontek UN?

  2. 19/04/2013 18:31

    Ayayayayayay. Puisi ini. 4 Jempol deh 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: