Skip to content

sajak petualang

07/02/2011
tags:

Perjalanan tak berpenghujung membuatku jadi petualang
yang tak mengenal lintang diantara jutaan rintang menantang.
Dunia ini luas terbentang dengan alam raya yang tenang
dikala semilir angin berdendang saat para mahluk saling sayang

Waktu takkan pernah menghilang dan selalu berputar pantang
sedari pagi hingga petang menemani sang petualang,
menjelajahi gurun cadas nan gersang
melewati samudra yang membentang
mendaki ketinggian abadi para gunung
lalu menyisiri hutan tak berbintang
hingga melintas gurus pasir yang menjulang

Bila hidup ini adalah hutang
yang kan sia-sia terlelang ditangan pecundang
dan kan jadi untung di pengalaman pedagang,
apa yang akan kita kenang?
disisa waktu yang telah hilang.
Begitu pula pohon beringin kan rindang
saat hujan bernyanyi riang menyapa akar kering
yang kan roboh diterjang, kemarau panjang penantang

Manusia bodoh hanya bisa bicara lancang
tanpa ia mengerti makna kata tualang
di mata tajam burung elang
di mulut dingin beruang gunung
dan hati tenang ikan laut saat badai bergoyang

Akhirnya perjalanan ini berpenghujung
saat nafas hanya tersisa di ujung hidung
dan kaki mulai membujur terlentang
Semua itu kan rapi terpampang
di catatan akhir nan manis para petualang.

 

 

SABUDI “sastra budaya indonesia”
mari kita jaga bersama

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: