Skip to content

Lancang

28/01/2011
tags:

Kau ajakku berdendang
di lantai waktu nan panjang,
lalu kau sok menimbang
kala cahaya tak lagi terang
di bibir jurang,
sebelum aku; kau tendang
dengan kata pecundang.

Aku memang hanya pembual
dimatamu yang nakal,
tiada bagiku jarak sejengkal
tuk ucapkan kata krusial
pada tangkup kolosal
kepemimpinan yang amoral.
Semua telinga kau sumpal
dan aku, kau panggil begundal.

Coretanku hanyalah bukti
bahwa aku punya harga diri
yang takkan kujual sampai mati,
walau kau sebut aku anarki.
Reformasi memang mudah terbeli
namun hati takkan ku beri
karena negriku ada di hati
dan bukan tertempel di dahi.

Aku kan terus berjuang
melawan kolonial lokal
dibalik kata tirani.
Ini bumi pertiwi
bukan sarang dajal
yang kan mati terjengkang.

Aku pemuda jalang
diantara kaum klasikal
yang pandai berkelahi

 

 

 

SABUDI “sastra budaya indonesia”
mari kita jaga bersama!

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: