Skip to content

cinta penabuh rebana

26/02/2010
tags:

Sahut-sahutan bunyi berirama
dari pukulan-pukulan rancak berbeda
menyerabut menjadi satu dengan darah
Getir telinga hanya terdengar bait-bait pujian

Aku semakin menyatu dalam tatanan ketukan
menyambutnya hadir dalam angan
menyapaku dengan bisikan hati.

Rebanaku menangis
bukan karena pukulan
namun merindu sejarah perjuangan
sang pemimpin akhir zaman

Kutabuh rebanaku selembut sentuhan
tak layaknya raja mencambuk rakyatnya.
Kutabuh rebanaku tak setiap waktu
melaikan jika datang kekasihku
lalu sejuta bait rayuan bersahutan
membuatku membelai lembut rebanaku

Rebanaku kini mengeras
layaknya kulit terjemur diterik panas
Daun krincing besinya mendingin
bersamaan hati-hati yang membeku dingin.

Kucoba lagi menabuh rebanaku
yang selalu merindu dengan kekasihku
bukan ayahku
bukan pula ibuku
Apalagi wanita pedampingku

Kutabuh ia ditengah ramainya kontradiksi
digelapnya mata akan sejarah
dihamburan bising kalam tak berfaedah
Rebanaku kutabuh untukmu
meneladanimu dalam bait-bait barzanji
dan mengenangmu disetiap kalimat diba’
ya Rosulullah Muhammad pemimpin semua umat

SABUDI “sastra budaya indonesia”
mari kita jaga bersama!

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: