Skip to content

negara teka teki

31/01/2010
tags:

Negaraku negara teka teki
teracak-acak dilantai
dimainkan dengan kawan
Warna-warna kesukaan terpilih
dan semua telah terbagi

Waktunya untuk menata
dimulai dari tengah
lainnya mengikuti.
Tak butuh lama tuk menata
sebuah gambar idealis
tikus manis berunjuk gigi.

Dibongkar lagi
dipilah-pilih kembali
Ditata masing-masing
terlihat acak tak berupa
seperti sampah ditengah kota
Tiada yang suka

Tidak ada lagi kata memilih
berfikir bersama-sama
mengisi dengan semangat
dari bawah ke atas
dari kanan lalu kiri
Dengan sabar lagi bijaksana

Satu wajah bergeleng kepala
satu hilang entah kemana.
Saling bertanya
Saling berkata
Gelitiki saja tanda tanya
hingga tawa menjadi tangis
dan putih menjadi merah
Maka dia kan berkata
Satu terselip diujung gigi

Dan senyumpun merekah
menemani MERAH PUTIH berkibar
di hamparan hijau luas INDONESIA
Dalam bingkai teka teki negaraku.

Negaraku negara teka teki
takkan tercipta tanpa nurani

SABUDI “sastra budaya indonesia”
mari kita jaga bersama!

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. link permalink
    02/02/2010 13:49

    17 AGUSTUS 2005

    Pernah kudengar seorang penyair berteriak

    tentang merah putih yang terluka

    katanya dwi warna perlu dijahit kembali

    mungkin dioperasi

    Dan hari ini

    seperti tahun-tahun sebelumnya

    aku pun sibuk menghias RT dan sekolahku

    hingga indah berwarna warni

    kami membeli bendera banyak sekali

    aku ikut lomba makan kerupuk,

    balap kelereng, balap karung

    dan panjat pohon pinang

    Di antara derai angin

    aku melihat merah putih

    melambai-lambai pada kami

    : “Ayo berkibarlah!” teriakku

    Ketika pulang, hari begitu mendung

    kutemukan merah putih nyaris terkulai

    di tiang depan rumahku

    : “Berkibarlah! Berkibarlah!”

    Merah putih hanya menatap

    menyapa tanpa kata

    Apa ia sedih aku tak menang perlombaan?

    Atau masih saja ia merindu jiwa itu?

    Soekarno, Hatta, Sudirman, Agus Salim dan yang lain?

    Entah kapan, aku pernah mendengar bisikan itu

    Para pahlawan telah kibarkan dwi warna

    dalam dada

    bahkan pada saat yang terbadai

    “Berkibarlah! Ayo berkibarlah!”

    di kamarku Peter Pan dan Chrisye

    menyenandungkan lagu ‘aku menunggumu’

    Dari balik jendela

    kulihat merah putihku kuyup

    didera deras air dari langit

    mungkin ia begitu cemas menunggu

    sedang aku masih saja

    mengira airmatanya

    sebagai hujan.

    (Agustus 2005, Abdurahman Faiz, siswa kelas IV SDIF Al Fikri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: